Ribuan massa padati titik aksi, hari Ahad (26/7/2026) di Patung Kuda Silang Monas, Jakarta Pusat. (LDK Syahid/Rajif Ramadhan)
Ldksyah.id - Merespons genosida yang terus berlangsung di Palestina, masyarakat dari berbagai elemen menggelar aksi damai bertajuk "Gaza for Israel: Jika Kita Tetap Diam" di kawasan Patung Kuda, Silang Monas, Jakarta Pusat, pada Ahad (26/7/2026). Aksi yang berlangsung sejak pukul 06.00 hingga 09.00 WIB ini digelar untuk menyatukan langkah mengusahakan kemerdekaan Palestina, mempertegas solidaritas kemanusiaan, sekaligus menuntut ketegasan sikap Pemerintah Indonesia terhadap penjajahan Zionis Israel.
Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan sejumlah tuntutan krusial kepada pemerintah, di antaranya menuntut pemerintah untuk menuntaskan janjinya terkait Board of Peace (BoP) serta konsisten menerapkan politik luar negeri bebas aktif. Massa juga menyoroti dan mengecam keras kebijakan otoritas Indonesia yang justru menangkap dan mendeportasi (memberikan red notice) tokoh aktivis Palestina, Syaikh Abdul Karim Raid Miqdad, saat berkunjung ke Indonesia.
Turut hadir dalam aksi tersebut, Nafidz Santino (FAH/2024), yang menegaskan bahwa aksi ini merupakan dorongan kuat untuk menyuarakan hak-hak warga Gaza yang tidak akan pudar selama tanah Palestina masih diduduki penjajah. Ia secara khusus mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap perlakuan aparat terhadap aktivis Palestina.
"Kita berpandang bahwasanya otoritas Indonesia atau para fungsionaris Indonesia telah melakukan sebuah penghinaan dan pencelaan terhadap apa yang telah dia lakukan terhadap salah satu aktivis Palestina, yaitu Abdul Karim Raid Miqdad. Ini merupakan tindak yang tidak dibenarkan dan sangat tidak bisa ditoleransi," tegas Nafidz. Ia mengingatkan bahwa pejuang tidak bisa dilabeli teroris, karena sejatinya mereka adalah sosok yang ingin menegakkan keadilan.
Lebih lanjut, Nafidz berharap agar gerakan aksi damai ini dapat membuka pola pikir para penegak hukum dan diplomat Indonesia agar ke depannya ada kebijakan yang memberikan solusi positif dan adil, serta tidak ada lagi diskriminasi terhadap pejuang hak asasi manusia. Ia juga berpesan kepada masyarakat luas agar tidak diam melihat kezaliman ini. "Bentuk diam kita merupakan penindasan secara tidak langsung... sehingga diamnya kita merupakan peluru secara tidak langsung terhadap jasad-jasad mereka. Jangan kira satu suara kalian itu sangat tidak berpengaruh," ujarnya mengingatkan.
Selain elemen mahasiswa, mimbar orasi juga diisi oleh sejumlah tokoh masyarakat, ulama, dan pemuda. Ustaz Husein Gaza dalam orasinya mengingatkan massa bahwa kemarahan terhadap kondisi yang ada tidak boleh hilang hingga Palestina merdeka, serta menegaskan bahwa pembebasan Al-Aqsa adalah ibadah tertinggi. Di sisi lain, Habib Muhammad dari FPI membakar semangat massa untuk terus berjuang membela Masjidil Aqsa dan memperkuat perlawanan nyata lewat konsistensi boikot terhadap produk-produk terafiliasi Zionis.
Rangkaian aksi damai yang penuh haru dan semangat perjuangan ini kemudian ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap yang menegaskan bahwa rakyat Indonesia menolak lupa akan penderitaan Palestina, serta diakhiri dengan doa bersama untuk kebebasan Masjidil Aqsa dan keselamatan rakyat Gaza.
Komentar
Bagikan pendapat Anda tentang berita ini.
Masuk terlebih dahulu untuk berkomentar.