Dokumentasi kegiatan Syahdan bersama Pemateri dan Peserta, hari Rabu (11/3/2026) di Masjid Al-Jami’ah Student Center (SC). (LDK Syahid/Nabila Mahmudah)
Ldksyah.id - LDK Syahid UIN Jakarta menyelenggarakan Syahid in Ramadan (Syahdan) 1447 Hijriah pada Rabu, (11/3/2026) di Masjid Al-Jami’ah Student Center. Kajian dengan tema “Timur Tengah dan Perang … Kita harus ngapain sih?” tersebut dilaksanakan di bawah koordinasi Bidang Syiar.
Narasumber Syahdan, Dr. Fakih Fadilah Muttaqin, S.Hum, M.A., memaparkan pengamatannya mengenai konflik di Timur Tengah. Belum lagi kajian ini digelar di tengah isu yang masih hangat diperbincangkan di media berita televisi dan media sosial dengan berfokus pada penyerangan israel dan sekutunya, Amerika Serikat (AS), ke negara Iran, yang langsung dibalas oleh Iran tanpa menunggu lama. Masyarakat dunia menjadi terpecah belah. Sebagian mendukung langkah yang dilakukan oleh Iran sebagai bentuk perlawanan terhadap zionis dan Barat, sebagiannya lagi menuduh bahwa Iran mengganggu stabilitas politik global.
“Dari sini kita harus memahami bahwa Islam melampaui sekat-sekat geografis. Jika kita terus berpecah belah karena berbeda negara, maka akan terjadi kerusakan di muka Bumi. Kita jangan menganggap bahwa warga di negara lain merupakan seseorang yang berbeda dengan kita sebagai manusia. Sejatinya kita semua adalah sama,” tutur Fakih.
Salah satu peserta Syahdan, Maulida Fitria dari Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI), mengungkapkan sesuatu yang baru ia ketahui setelah mengikuti kajian tersebut.
“Aku baru ketahui dari kajian Syahdan ini kalau negara-negara Arab yang tergabung dalam Board of Peace sebenarnya mendukung kemerdekaan Palestina. Namun, mereka tidak dapat bergerak bebas karena pergerakan mereka diawasi oleh Trump selaku pembuat organisasi tersebut.”
Lebih lanjut, ia menilai di sinilah peran kampus dan organisasi kemahasiswaan yang mempunyai tanggung jawab moral untuk memiliki rasa empati atau peduli. Dari rasa peduli itulah kita, sebagai mahasiswa, dapat memberikan aksi nyata untuk membantu. “Berbeda dengan reaktif yang suatu saat responsnya dapat pudar kapan saja, maka peduli adalah terus membantu meski isunya tak lagi hangat,” ujarnya.
Koordinator Bidang Syiar, Bani Rizki Arsyad, menyampaikan pandangannya soal alasan memilih tema yang tak biasa. Menurutnya, melihat perkembangan zaman di mana gejala geopolitik terjadi, maka Ramadan, bulan penuh berkah, jadi momentum yang dirasa tepat untuk masyarakat muslim agar lebih aware dengan apa yang terjadi di Timur Tengah, khususnya Palestina.
“Sebagaimana israel diserang oleh Iran, maka itulah yang dirasakan oleh rakyat Palestina. Itulah yang ingin kita coba jelaskan bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, yang kini mereka rasakan juga lewat Iran,” katanya.
Dalam pernyataan penutup, Fakih menyebut bahwa di tengah situasi global seperti saat ini, kita memerlukan perbaikan untuk diri kita sendiri.
“Tentu kalau kita mampu mengubah nasib kita, maka kita akan mampu mengubah nasib orang. Dengan kita terus memperbaiki diri, maka kita akan bermanfaat lebih luas. Jangan pernah lelah untuk belajar,” tutupnya.
Komentar
Bagikan pendapat Anda tentang berita ini.
Masuk terlebih dahulu untuk berkomentar.