LDK Syahid
LDK Syahid
WIB --:--:--

Jadwal Sholat Hari Ini

Untuk Wilayah Jakarta & Sekitarnya

Memuat jadwal sholat...

LDK Syahid UIN Jakarta

FOCUS GROUP DISCUSSION “KONTROVERSI SHOLAT IDUL FITRI AL ZAYTUN: BAGAIMANA SIKAP KITA?”

Senin, 5 Juni 2023 Reporter: M. Alifa Fikri Editor: Aslinniarni Restina
FOCUS GROUP DISCUSSION “KONTROVERSI SHOLAT IDUL FITRI AL ZAYTUN: BAGAIMANA SIKAP KITA?”

ScreenShot Zoom

FOCUS GROUP DISCUSSION “KONTROVERSI SHOLAT IDUL FITRI AL ZAYTUN: BAGAIMANA SIKAP KITA?”


Bidang Pengembangan Akademik, Bakat, dan Keilmuan sub Kajian Strategis Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid mengadakan Focus Group Discussion (FGD) pada tanggal 30 April 2023 melalui via Zoom Meeting. 

Kegiatan ini berhasil membawakan topik “ Kontroversi Sholat Idul Fitri Al Zaytun: Bagaimana Sikap Kita?” dengan menghadirkan pemantik Dzaki Kusumaningsatriyo M selaku staf ahli Bidang Kastrat 27 dan Moderator Rafi al Hafidz selaku staf ahli Media 27. Kegiatan diskusi ini diadakan 1 setengah jam penuh mulai dari pukul 09.00 WIB hingga 10.30 WIB. Diskusi ini bersifat umum, dimana dari semua kalangan bisa ikut meramaikan dan mendengarkan diskusi bersama pemantik. 

Kegiatan diskusi diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan dibuka oleh moderator dalam memandu acara diskusi. Diskusi dipimpin oleh pemantik membahas pelaksanaan sholat Idul Fitri yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Zaytun dilihat dari sudut pandang Islam.

"2 hal penting yang ada pada Islam, yaitu memahami konsep “Al Islamu shalihun li kulli makan wa zaman” dan menelaah Langkah-langkah untuk memahami Islam dengan paham yang baik dan benar."Ujar Dzaki.

Pemantik melanjutkan pembahasan yang dipandu moderator dan dilanjutkan sesi tanya jawab. Kegiatan diskusi dilanjut dengan closing statement oleh pemantik dalam menanggapi fenomena sholat Idul Fitri Al Zaytun sebagai bentuk pemahaman bagi seorang mahasiswa terhadap kontroversi yang terjadi saat ini dan nanti.


“Mendapati fenomena ini, seyogyanya kita sebagai insan menyikapi dengan pendekatan yang bersifat damai dan ilmiah. Artinya, kita perlu menyikapi peristiwa tersebut dengan tujuan untuk mencari kedamaian dan dilakukan dengan pendekatan pengkajian yang penuh hikmah. Kita perlu mengetahui latar belakang terjadinya peristiwa tersebut, menghadirkan rujukan yang kompatibel, dan merapikan paradigma. Dan tak lupa, kita juga perlu menyikapi fenomena tersebut tanpa sentiment, yaitu dengan tidak memaksa, tidak mengkafirkan, dan bukan berlandaskan kebencian.” Tutup Dzaki sebagai closing statement diskusi.

Berita Lainnya

Komentar

Bagikan pendapat Anda tentang berita ini.

Memuat komentar…